Cincin pernikahan adalah sebuah perhiasan yang dikenakan oleh sepasang suami-istri selama. Bentuknya yang melingkar melambangkan cinta yang abadi dan tiada akhir, bermakna bahwa pernikahan akan bertahan selamanya.

Dalam upacara pernikahan, ada salah satu prosesi tertentu yang tak boleh terlewatkan, yakni pertukaran cincin kawin. Cincin tersebut biasanya disematkan oleh suami kepada istri di jari manis, begitu juga sebaliknya. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa cincin harus dikenakan di jari manis?

Seperti yang dikutip dari mervisdiamond, ribuan tahun lalu, ada suatu kepercayaan dalam bangsa Yunani dan Romawi kuno bahwa pembuluh darah yang berada di jari manis atau jari keempat tangan manusia mengarah langsung ke bagian jantung. Bahkan pembuluh darah ini mempunyai sebutan ‘vena amoris’ yang berarti pembuluh darah cinta.

Keyakinan ini menyebabkan tradisi mengenakan cincin kawin di jari tertentu melambangkan rasa cinta antara pasangan yang menikah. Banyak orang yang masih mempercayai akan hal ini, namun menurut penelitian ilmiah, mitos ini tidaklah benar.

Di dalam budaya barat, cincin pernikahan umumnya dikenakan di jari manis tangan kiri. Teori mengatakan manusia lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk beraktivitas dibandingkan tangan kiri, sehingga cincin tidak mudah rusak atau tergores.

Sedangkan jari manis tangan kiri merupakan jari yang jarang digunakan dalam melakukan kegiatan. Sehingga para pasangan merasa aman untuk mengenakannya di tangan kiri.

Tetapi tidak semua pasangan mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kiri. Beberapa negara lainnya seperti Spanyol, Venezuela, Peru, India, Norwegia, Denmark, termasuk Indonesia memiliki tradisi mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan. Alasannya, tangan kanan merupakan tangan yang lebih dominan, diibaratkan sebagai simbol pernikahan yang kuat dan tak mudah goyah.