Pukul 10 atau 11 malam, Anda dengan mudahnya tertidur lelap. Namun begitu pukul 3 pagi, Anda terbangun dengan mata terbuka lebar dan tidak sedikit pun merasa ngantuk. Sering atau bahkan setiap malam mengalami kejadian serupa? Kondisi ini disebut dengan mid-insomnia atau kesulitan menjaga tidur yang terbilang normal.

Dijelaskan James Findley, Ph.D., direktur klinis dari Behavioral Sleep Medicine Program di University of Pennsylvania, ada tiga siklus tidur yang terjadi setiap malamnya. Dimulai dari tidur nyenyak yang dalam, tidur dengan kesadaran sedang hingga tidur ringan. Tapi ada kalanya ketika sedang tidur lelap, fase tidur tiba-tiba bergerak ke tahapan tidur yang lebih ringan sehingga besar kemungkinan akan terbangun. Alhasil banyak orang yang mengalami ‘tidur terpecah’ saat dini hari.

“Biasanya Anda akan bangun, mengubah posisi tidur dan kembali tidur. Itu hal yang normal dan bukan masalah,” ujar James, seperti dikutip dari Huffington Post.

Namun jika Anda terbangun di malam atau dini hari, dan sulit tertidur lagi lebih dari 30 menit selama tiga sampai empat hari dalam seminggu, maka kemungkinan Anda mengalami gangguan tidur yang lebih serius. Apa saja penyebabnya?

1. Faktor Usia
Seiring bertambahnya usia, jam tidur akan berkurang misalnya dari 7-8 jam sehari menjadi 4-5 jam sehari. Hal ini dikarenakan orang-orang yang paruh baya cenderung terbangun di tengah-tengah tidur. Frekuensi terbangun tiba-tiba ini lebih sering ketimbang yang usianya lebih muda. Semakin tua, kesulitan tidur biasanya akan semakin bertambah.

2. Gangguan Tidur
Orang yang menderita insomnia tidak hanya mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak, tapi juga cenderung sering terbangun di malam hari. Terbangun di malam hari bisa juga karena sleep apnea, yaitu kondisi dimana seseorang berhenti bernapas selama beberapa detik (jeda napas) ketika tidur. Jeda napas itulah yang membuat orang secara tak sadar membuka matanya.

“Orang dengan sleep apnea mungkin tidak menyadarinya kecuali pasangan tidurnya mengatakan kalau dia mengalami jeda napas saat tidur,” tutur James.

3. Kondisi Tubuh
Kondisi tubuh terkadang juga jadi salah satu penyebab Anda terbangun dari tidur di malam haru. Misalnya saja perut yang terasa melilit atau kembung akibat terlalu banyak makan di siang harinya. Orang dengan masalah kepanikan atau gangguan bipolar (perubahan mood yang tiba-tiba) juga bisa menjadi penyebabnya.

Pada pria, pembengkakan pada prostat juga memungkinkan untuk terbangun di tengah malam karena keinginan buang air kecil. Begitu pula dengan konsumsi obat-obatan yang bersifat diuretik yaitu memperbanyak frekuensi buang air kecil. Stres dan depresi pun bisa jadi penyebabnya. Ketika orang mengalami stres, mereka cenderung sering terbangun di malam hari karena ada sesuatu yang dipikirkannya di alam bawah sadar.

4. Faktor Lingkungan
Kondisi kamar amat menentukan kualitas tidur Anda. Lingkungan di sekitar tempat tidur yang bersih dan nyaman, akan menciptakan suasana kondusif untuk tidur lelap dari malam hingga keesokan paginya. Misalnya saja terpaan cahaya yang masuk dari ruangan lain ke kamar Anda, bisa membuat Anda terbangun tanpa menyadarinya.

“Kadang cahaya yang masuk lewat tirai kamar bisa menjadi masalah. Jadi sebaiknya Anda memasang tirai yang bahannya lebih tebal,” jelas James.

Cahaya dari lubang pintu atau jendela juga bisa membuat jam tidur jadi terganggu. Jadi sebaiknya hadapkan tubuh Anda ke sisi yang tidak terpapar cahaya. Selain cahaya, suara bising dari luar pun bisa menyebabkan Anda terjaga di malam hari. Misalnya saja bunyi kendaraan atau ambulans yang melintas di depan kompleks maupun rumah. Anda bisa memasang karpet peredam suara, atau menyetel suara pengantar tidur seperti bunyi air mengalir atau gemerisik dedaunan di hutan.

Apa yang bisa dilakukan ketika terbangun di malam hari agar segera tidur kembali? James memaparkan dua caranya. Pertama, jangan diam saja di tempat tidur. Jika Anda tidak bisa tidur lagi setelah lebih dari 20 menit terbangun, James merekomendasikan untuk bangkit dari tempat tidur dan lakukan relaksasi. Misalnya dengan peregangan otot, membaca buku atau memecahkan teka-teki puzzle.

Cara kedua, hindari melihat smarpthone atau tablet Anda. Layar dari perangkat elektronik tersebut memancarkan cahaya spektrum biru yang menstimulasi otak untuk lebih aktif. Akibatnya, mata pun semakin ‘segar’ dan semakin sulit terpejam.